MUI Pusat tak menolak konsep Islam Nusantara yang diinisiasi oleh Nahdlatul Ulama, tetapi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat menolak adanya konsep Islam Nusantara dengan berbagai argumen yang mereka keluarkan. Dan kehebohan ini sendiri berawal dari pemahaman soal konsep Islam Nusantara. Konsep Islam Nusantara itu sering didengungkan oleh Ulama-Ulama NU. Dan istilah Islam Nusantara itu sendiri pernah sempat jadi pro dan kontra di dunia sosial media twitter sekitar pertengahan 2015 tahun lalu.

Maulidan, Sholawatan, Tahlilan, Adalah Tradisi Islam di Nusantara

Apa sih sebetulnya Islam Nusantara itu? Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj menyampaikan bahwa Islam Nusantara bukanlah agama baru, bukan pula aliran baru. Islam Nusantara ialah pemikiran yang dilandaskan oleh sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang tak melalui peperangan, tetapi dari hasil kompromi terhadap budaya lokal. Dengan pemahaman Islam Nusantara tak membuat orang yang mempelajari berubah jadi radikal yaitu suka terhadap kekerasan. Karena dalam konsep Islam Nusantara tak diajarkan membenci, membakar, / bahkan sampai membunuh.

Pada waktu itu memang Islam Nusantara sedang dipersiapkan supaya jadi tema Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama yang digelar di Jombang pada tanggal 1 Agustus 2015. Yaitu “Meneguhkan Islam Nusantara supaya Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia”. Dan Presiden Jokowi mengapresiasi tema tersebut.

Maulidan, Sholawatan, Tahlilan, Adalah Tradisi Islam di Nusantara 

Kini telah muncul penolakan terhadap konsep Islam Nusantara. Penolakan itu bahkan muncul dari MUI Sumatera Barat, keputusan itu dihasilkan melalui Rapat Koordinasi Derah MUI Sumatera Barat dan MUI Kabupaten / Kota se Sumatera Barat, yang telah diadakan di Padang pada 21 Juli 2018.
Kesimpulan MUI Sumatera Barat yaitu menyatakan tanpa ada keraguan bahwa Islam Nusantara dalam konsep/pengertian definisi apa pun tak dibutuhkan di ranah minang (Sumatera Barat). Kata MUI Sumbar, nama ‘Islam’ telah sempurna dan tak perlu lagi ditambah dengan embel-embel apa pun.

MUI Pusat yang setuju dengan konsep Islam Nusantara mengatakan bahwa penolakan dari MUI Sumatera Barat itu karena pemahaman yang tak singkron / selaras. Islam Nusantara sejatinya ialah konsep yang menekankan kekhasan lokal, namun juga tak menolak unsur universal Islam itu sendiri. Karena Islam yang berkembang di wilayah Nusantara mempunyai ciri khas yaitu tak berada di titik ekstrem namun moderat, / berada di tengah-tengah.

Kita tahu bahwa Islam Nusantara bukanlah nama sebuah golongan baru, tetapi hanya sebuah penekanan ciri lokal masyarakat Indonesia dan sekitarnya saja. Ciri lokal ini yaitu berwujud adat, dan dalam istilah Arab, yaitu Al Adah Al Muhakkamah / adat yang jadi sebuah kebiasaan. Dan kebiasaan itu yaitu seperti halnya “Maulidan, Sholawatan, Tahlilan, ialah Tradisi Islam di Nusantara”.